Saffa Nashita Puteri

Last login time
3 Februari 2020



headerBanner
Satu Mimpi Sejuta Usaha

Satu Mimpi Sejuta Usaha

IndiSchool - Myschool · Posted by Saffa Nashita Puteri


Kamis, 23 Januari 2020 9:48 WIB 974 0 0

Pagi itu, suasana ramai sekali. Terlihat dari kejauhan, mereka mengerumuni secarik kertas yang terpampang di meja 'putih abu-abu'. Mendorong untuk menghampiri agar rasa penasaran terpenuhi. Ah lagi-lagi tentang si dia yang selalu naik daun setiap akhir tahun.

Kertas itu berisikan daftar nama alumni dan universitas yang sudah menjadi kampusnya sekarang, lengkap dengan rekap nilai sebagai acuan peluang diterima perguruan tinggi negeri. Memang, hari semakin dekat dengan waktu pendaftaran universitas, keputusan harus sudah bulat dan siap untuk dimasukan ke dalam data dan bertempur dengan nilai lainnya.

Cukup mudah untuk membedakan tingkatan kelas pada saat-saat seperti ini. Pergi saja ke kantin, raut wajah yang serius atau sekumpulan siswa yang membawa buku bahkan ke kantin, definisi siswa kelas 12. Pembicaraan juga bukan lagi tentang si dia yang baru saja jadian atau si mereka yang baru saja menjahili guru. Trending topicnya adalah, "dilema massa masuk kuliah".

Dilema ini benar dirasakan oleh semua siswa kelas 12. Termasuk aku. Dilema pilihan universitas mana yang tepat, apalagi yang pendaftarannya paling dekat. SNMPTN. Hanya 40% dari seluruh siswa yang bisa daftar jalur ini. Termasuk aku (lagi). Bagaimana jika aku salah pilih dan menyia-nyiakan kesempatan emas ini? Bukan hal yang mudah untuk bisa mendapatkan kesempatan ini. Perjuangannya 3 tahun! Pulang sekolah langsung pergi ke tempat les. Entah itu hujan petir, hujan gledek, hujan orang meninggalpun aku terjang! Semua dilakukan demi rata-rata nilai yang tinggi, juga stabil.

Bertahan setidaknya 30 besar di sekolah ku merupakan hal yang cukup sulit. Persaingan di SMA favorit memang ketat. Tidak terkecuali sekolahku di SMAN 71 Jakarta.

Pilihanku masih sama sejak aku masuk SMA kelas 10. Untuk kuliah di salah satu Universitas negeri terbaik di Indonesia. Sayang, orang tua belum sepenuhnya setuju dengan keputusanku karena letaknya yang cukup jauh dari tempat tinggalku.

Haduhh, aku ini ingin mencoba hidup mandiri, pikirku. Ditambah setiap menelusuri jalan di Jakarta yang macet, sumpek, dan banyak pembangunan. Ah, semakin mantap aku ingin jauh dari sini.

Malam itupun tiba....

Dag dig dug hatiku, hatinya, hati kita semua. Si buah bibir yang tak henti-hentinya dibicarakan pun datang. Anak emas dari dua saudaranya yang lain. Anak yang diincar banyak orang. Katanya, anak ini cukup ajaib, bisa menghindari kita dari tes yang bikin pusing tujuh keliling. Namanya juga jalur undangan.

Perlahan tapi pasti aku isi setiap kolom formulir dengan ibuku malam itu. Biar mantap, ku tambahi bumbu-bumbu penyedap, aku masukan doa-doa dan nazarku agar lengkap rasanya usahaku tiga tahun untuk menaklukkan si anak emas ini. Orang tuaku akhirnya setuju dengan pilihanku. Sambil gemetar, aku mengajukan dataku ke kantor pusat untuk dipertaruhkan dengan nilai-nilai temanku yang lain.

Klik, nilai atas nama Saffa sudah resmi masuk medan perang.....

Sambil menunggu pengumuman, aku fokus untuk mempersiapkan diri menghadapi saudaranya, SBMPTN. Weekendpun perlu dikorbankan demi memanfaatkan waktu yang ada manakala tidak diterima jalur undangan.

Sampai tiba waktunya, pengumuman bisa dilihat secara online. Sore itu aku seorang diri di rumah, memberanikan diri untuk melihat apapun itu hasilnya. Aku tidak berekspetasi banyak, diterima atau tidak, tidak apa-apa, semua sudah ada jalannya. Begitu juga apa yang dikatakan ibuku padaku. Bahkan, gemeteran atau deg-degan tidak mendampingiku saat itu.

Tapi nyatanya, aku diterima! Spontan aku ucapkan hamdalah karena tidak lain Tuhan lah yang mengizinkan aku untuk diterima. Aku langsung meng-capture hasilnya dan mengirimkan ke group keluarga di sosial media.

Ibuku yang sedang di luar kota karena pekerjaan langsung menghubungiku melalui video call dan menangis terharu, padahal ia baru sampai di bandara. Ia mengucapkan selamat kepadaku, mungkin perasaannya saat itu campur aduk bagai kolak campur. Ia senang karena anaknya diterima di perguruan tinggi negeri yang cukup bagus. Namun, ia juga sedih karena akan jauh dariku karena aku harus merantau.

Tidak hanya menerima respon yang baik dari ibuku, anggota keluargaku yang lain juga merasa bangga kepadaku dan itulah yang membuat aku senang.

Setelah membalas ucapan selamat dari keluargaku, aku menghubungi teman-temanku. Tiga dari teman dekatku ternyata tidak lolos, tapi ada satu dari temanku yang diterima di universitas yang sama denganku. Mungkin aku juga merasakan apa yang ibuku rasakan. Campur aduk. Aku senang karena aku dan salah satu teman dekatku diterima, tapi aku juga sedih tiga dari teman dekatku belum diterima.

Setelah pengumuman jalur undangan, para siswa kembali mempersiapkan diri untuk menghadapi SBMPTN, aku dan temanku yang sudah diterima hanya bisa menyemangati dan membantu mereka belajar. Mereka yang belum diterima semakin gencar belajar, bahkan beberapa diantara temanku menjadikan aku motivasi agar bisa menyusulku di universitas yang menerimaku.

Ternyata, saat hari pengumuman tiba, empat dari teman dekatku diterima di universitas yang sama denganku. Rasanya sangat menyenangkan karena akan bertemu lagi dengan mereka di lingkungan yang baru.

Kampus yang dibicarakan dari tadi ini adalah Universitas Padjadjaran. Universitas yang hampir setiap tahunnya berada di tingkat pertama pendaftaran SNMPTN terbanyak. Aku bersyukur banget bisa diterima di Universitas ini.

Hari dimana aku pindah ke tempat tinggal di kota kampusku dengan ibuku, aku berpamitan dengan keluargaku yang lainnya. Saat aku berpamitan dengan adikku, tiba-tiba adikku mengeluarkan sebuah surat. Aku bingung, karena tidak biasanya adikku memberikan aku surat. Lebih tepatnya, tidak pernah. Tapi setelah aku lihat-lihat lagi tulisannya, ternyata ini bukan dari adikku, melainkan dari teman SMA ku yang sudah menitipkan surat ini kepada adikku dari jauh hari dan memintanya untuk memberikan kepadaku di hari aku pindah.

Ternyata, surat itu menceritakan bahwa ia bangga denganku dan memberikan aku pesan-pesan untuk menjaga diri saat aku merantau nanti.

Perjalanan terasa berbeda. Biasanya, aku pergi untuk sehari dua hari jauh dari rumah dan akan kembali. Tetapi kali ini, aku berjalan menuju tempat tinggalku yang baru dan aku akan jauh dari keluargaku.

Salah satu mimpiku sudah tercapai, satu langkah menuju seribu mimpiku yang lainnya.


Baca Juga



Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.


Please wait...


Ada 2.469.223 Member Bergabung
Copyright © 2020 IndiSchool - Indonesia Digital School. All Right Reserved
MyIndiSchool.com