Sigit Java

Last login time
14 September 2018



headerBanner
Keadaan Literasi Negeri Tanah Air Ku

Keadaan Literasi Negeri Tanah Air Ku

IndiSchool - Myschool · Posted by Sigit Java


Senin, 3 September 2018 10:32 WIB 132 0 0

Melalui harian Kompas pada Tahun 2017 lalu Presiden Jokowi meresmikan program pengiriman buku gratis setiap tanggal 17 ke seluruh daerah di Indonesia. Pembicaraan mengenai pengiriman buku itu disaksikan oleh para hadirin kabinet pemerintahan bapak Presiden Joko Widodo pada tanggal 2 mei 2017.

Pencetusan ide gagasan tersebut tidak disampaikan oleh bapak presiden namun bapak Presiden Joko Widodo berpesan "Kami mengharapkan ini akan memperkuat minat baca anak-anak kita di Indonesia".

Ternyata harapan memperkuat minat baca ini mempunyai makna yang sangat mendalam. Pembicaraan itu hanya sampai disitu saja, tapi coba ditelusuri penemuan-penemuan literatur ilmiah yang ada di Indonesia bagaimana keadaanya?.

Kabar literasi di Indonesia saat Hari Aksara Internasional (HAI) memasuki umur ke-52 tahun? Menurut data statistik dari UNESCO, dari total 61 negara, Indonesia berada di peringkat 60. Data ini cukup mengkagetkan, terdapat kesalahan apa bisa terjadi seperti ini. Sebaiknya tidak harus menyalahkan pemerintah, sekolah ataupun masyarakat. Bangsa ini butuh instropeksi diri dari setiap rakyatnya, melihat diri sendiri seberapa besar kecintaan diri ini membaca buku.

Waktu Sekolah Dasar diberi slogan yang masih teringat sampai SMA hingga Kuliah, slogan itu adalah "Buku adalah Jedela Dunia". Ternyata era saat ini sudah berubah buku bukan satu-satunya bahan ajar atau sumber informasi. Terdapat banyak sumber informasi dan informasi tersebut didapat dari internet yang memberikan pengertian suatu hal. Budaya menbaca bukupun menjadi tertinggal diganti dengan informasi internet.

Melihat 15 tahun yang lalu tepatnya pada tahun 2003, UNESCO memberi pernyataan Literasi juga bermakna praktik dan hubungan sosial yang terkait dengan pengetahuan, bahasa, dan budaya. Seharusnya bangsa ini sadar diri untuk mengalakan pentingnya membaca buku. Mengapa harus buku? Bukulah salah satu literasi yang saat ini mampu dipertanggung jawabkan, bukan berarti informasi internet tidak dapat dipertanggung jawabkan. Informasi internet dapat dipertanggung jawabkan dan yang terlebih mempunya reputasi tinggi akan penyajian suatu informasi. Namun kelemahan informasi di internet kebanyakkan kutipan-kutipan dari beberapa informasi disumber lain yang ini mengakibatkan. Kurang memahami secara sempurna dari sebuah informasi.

Ditahun 2003 juga UNESCO menyebutkan pula bahwa literasi informasi terkait pula dengan kemampuan untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan secara efektif dan terorganisasi, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi untuk mengatasi berbagai persoalan. Bagaimana bisa beberapa kemampuan seperti untuk mengidentifikasi, menentukan, menemukan, mengevaluasi, menciptakan jika tidak banyak informasi utuh seperti yang didapatkan pada buku.

Cukup berterimakasih dengan pemerintah terdapat upaya peningkatan anggaran pendidikan menjadi meningkat juga partisipasi sekolah. Angka partisipasi sekolah anak-anak berumur 13-15 tahun dari 81,01% pada tahun 2003 menjadi 94,7% pada tahun 2016. Namun, melihat hasil penilaian PISA (The Programme for International Student Assessment) yang dirilis Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2016, dapat disimpulkan bahwa peningkatan anggaran pendidikan di Indonesia belum berhasil meningkatkan kemampuan literasi anak-anak Indonesia.

Saat ini, bangsa ini harus sadar diri memperbaiki dirinya sendiri, dengan mewajibkan dirisendiri untuk membaca buku setiap hari. Membaca buku bukan menjadi hobi tapi sudah menjadi kewajiban anak negeri. Ada yang menarik saat berkunjung ke salah satu Sekolah dasar didaerah kabupaten Sleman.

Nama sekolah tersebut SDIT (Sekolah Dasar Islam Terpadu) Khoiru Ummah, disekolah tersebut sudah menerapkan kurikulum 2013 dan sesuai kurikulum 5 hari belajar disekolah. Ada yang menarik di SDIT Khoiru Ummah itu, dalam 5 hari belajar disekolah setiap pagi siswa membaca buku, disamping pintu masuk kelas diberi buku bacaan untuk para siswa.

Hal menarik yang ditemui ini selanjutnya bertanya kepada Kepala Sekolah SDIT Khoiru Ummah pada tanggal 14 maret 2018. Berkaitan iklim belajar di SDIT tersebut Kepala Sekolah bernama Sery Kustiati, S.Pd memaparkan "Para siswa kita beri kewajiban untuk membaca buku 15 menit pada waktu pagi sebelum pembelajaran dimulai, sebagai menambah wawasan kepada anak". Langkah kepala sekolah itu wajib mendapat apresiasi sebagai awal menumbuhkan wawasan literasi kepada anak.

Keadaan literasi Indonesia saat ini, perlunya kesadaran bangsa ini untuk berjuang bersama-sama dari rakyatnya untuk menumbuhkan motivasi perubahan dengan cara membaca. Perlunya penggalakan buku-buku wajib yang harus dibaca ditingkat Sekolah dasar sampai akhir maupun tingkat kuliah. Dengan begitu dengan keyakinan bersama keadaan kemampuan literasi bangsa ini akan meningkat di kancah Internasional.

Penulis : Sigit Yuli Pramono

Teknologi Pembelajaran UNY 2016

Artikel Ini pernah masuk untuk syarat pelatihan Journal di UNY

Foto : Gerakan Literasi Sekolah, Dok. disdik.depok.go.id


Baca Juga



Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.


Please wait...


Ada 2.468.868 Member Bergabung
Copyright © 2018 IndiSchool - Indonesia Digital School. All Right Reserved
MyIndiSchool.com