Saffa Nashita Puteri

Last login time
3 Februari 2020



headerBanner
Aku, Dia, dan Penyesalan

Aku, Dia, dan Penyesalan

IndiSchool - Myschool · Posted by Saffa Nashita Puteri


Selasa, 28 Januari 2020 13:44 WIB 369 0 0

Pagi itu menjadi pagi yang sangat cerah bagi SMA Negeri 71 Jakarta. Tahun ajaran baru pun segera dimulai. Berjalan dengan gembira ditemani dengan salah satu sahabatku yang bernama Sarah. Memohon kepada Tuhan agar aku dan Sarah dipersatukan di kelas 12. Tuhan baik! aku dan Sarah pun ditempatkan di kelas yang sama, yaitu 12 IPS 3.

Tak banyak yang berubah dari Sarah, dia tetap menjadi chairmate yang senantiasa membantuku dalam menyelesaikan berbagai pelajaran sekolah maupun pelajaran hidup. Ah, rasanya aku harus banyak berterima kasih kepada Sarah, karena Sarah yang membuatku sanggup melewati beban-beban pelajaran di semester lima ini.

Hari demi hari ku habiskan untuk belajar dengan tekun dan mengejar cita-citaku. Jika ditanya apa cita-citaku, hmm jujur aku bingung. Sampai kelas 12 pun aku merasa tidak memiliki tujuan kemana aku harus berada setelah lulus nanti. Aku hanya berpikir untuk terus meningkatkan nilai dan mendapatkan kuota idaman semua umat. Ya! Itulah SNMPTN. Jalur masuk Perguruan Tinggi Negri yang diidamkan semua orang termasuk aku. Betapa besar harapan yang ku serahkan pada jalur tersebut.

Belajar dengan tekun dan mengukir nilai adalah kegiatan yang selalu aku lakukan bersama Sarah di semester lima. Berlomba-lomba dengan temanku yang otaknya seperti robot membuat aku terus tertantang mengukir nilai terbaik. Rasa malas? rasa kantuk? rasanya tidak pernah kurasakan saat itu. Nilaiku kian lama semakin meningkat dari semester sebelumnya, ah senang sekali rasanya kalau seperti ini, pasti bisa nih aku dapat SNMPTN, pikirku.

"Tiada hari tanpa ke BK Erika mah," itulah ujar teman-temanku. Setelah dinyatakan mendapat kuota SNMPTN, hampir setiap hari yang kulakukan hanyalah mendatangi ruang bimbingan konseling. Kutemui Ibu Koni yang cantik namun sedikit cerewet, hehe maaf ya bu tapi ibu emang suka nyebelin. Aku pun bingung dengan diriku yang selalu mendatangi ruang BK layaknya obat ! Iya aku datang ke ruangan itu tiga kali sehari, namun sayangnya tak kunjung menemukan jawaban atas tujuanku.

Bingung sekali memikirkan mau masuk jurusan apa sih aku tuh? Psikolog? Komunikasi? Ekonomi ? Akuntansi? atau apa? Mencoba mencari jurusan yang sesuai dengan nilaiku rasanya sangat mudah, hanya saja mendapat restu orangtua yang sangat sulit. "Kamu ini cari jurusan yang bener-bener saja dong jangan aneh nanti ga dapet kerja," ujar orangtuaku. Namun pada akhirnya keputusanku untuk memilih jurusan TV dan Film sepertinya bagaikan dosa besar yang tidak bisa diampuni oleh mereka. Raut wajah asam seperti pertanda ketidaksukaan orangtua saat mendengar pilihanku. Huft serba salah sekali hidupku, dituntut untuk mendaptakan jalur surga tapi banyak sekali persyaratannya!

Singkat cerita, aku pun memilih jurusan Ilmu Administrasi Publik. Layaknya anak kecil yang capcipcup dengan pilihannya, hal itu pun aku terapkan saat akan memilih jurusan SNMPTN. Berbekal nekat dan saran dari Ibu Koni yang yakin aku akan diterima di SNMPTN ternyata meleset! Hari itu rasanya hari yang sangat abu-abu bagiku, sungguh tidak jelas, perasaan campur aduk, hati bersedih namun tak tau juga bakal jadi apa jika aku diterima di jurusan itu. Ya setidaknya aku sudah mampu menjadi bagian 40% orang pintar dari 288 anak di sekolahku.

Dengan berat hati, aku harus memulai lembaran baru dan melepas segala harapan yang aku gantungkan pada SNMPTN, pikirku. Menyakitkan memang menerima kenyataan yang pahit. Memang sudah seharusnya kita tidak boleh berharap pada suatu hal. Bangkit untuk terus maju berharap ada cahaya terang yang menyinari jalan hidupku ini dengan berusaha meyakinkan diri untuk bertekad belajar dengan giat agar diterima di Perguruan Tinggi Negri melalui jalur sejuta umat yaitu SBMPTN.

Berbeda dengan SNMPTN, SBMPTN merupakan jalur yang jika tidak bisa dipilih mungkin tidak akan dipilih oleh semua orang. Terlebih, mekanisme SBMPTN di tahunku yang mengalami perubahan membuat kepala ini rasanya seperti mau pecah saja.

Kiranya semua akan berjalan mulus sesuai dengan angan dan khayalan yang ku pikirkan setiap malam sebelum tidur, namun nyatanya tidak. Dia datang dan mengubah segalanya. Dia datang dan membuat diriku lupa atas tujuan awal untuk bangkit. Bukan ingin menyalahkan, dasarnya aku tau ini semua terjadi karena keputusan bodohku yang memilih untuk menerima ajakan berpacaran dengan si Dia. Lucu ya hidup ini, penyesalan memang selalu datang diakhir dan tidak akan merubah semuanya. Rasanya tidak berlebihan jika ku ibaratkan Dia sebagai boomerang dalam hidupku.

Niat hati ingin berbenah diri namun malah menyesatkan diri. Berpikir Dia dapat menjadi teman belajar dan support system bagiku namun nyatanya meleset jauh bagaikan bola yang tak tertangkap penjaga gawang. Lagi-lagi sudah kubilang, jangan terlalu berharap jika tidak ingin sakit!

Semenjak memutuskan untuk menjalin hubungan dengan Dia, kian lama aku menjadi semakin malas untuk belajar. Kebetulan aku mengikuti les intensif di salah satu program bimbingan belajar bersama dengan Dia, bukannya belajar malah aku terus bercanda dan bermain di tempat les. Bukan sepenuhnya bercanda sih, aku pun tetap belajar untuk memahami semua materi yang nantinya akan diujikan, namun kesalahan diriku yang tidak bijak dalam menyikapi masalah membuat fokusku mudah terpecah dengan berbagai hal terutama dengan Dia.

Tidak mau terus terpuruk dengan keadaan dan permasalahan yang kian lama semakin rumit, aku terus memaksakan diri untuk terus fokus pada tujuan awalku yaitu diterima di PTN. Pergi siang pulang malam, itulah aku, untung aku tidak seperti Bang Toyib yang gapulang-pulang ya hehe. Kala itu, soal UTBK menjadi makanan harian yang harus ku lahap habis setiap babnya. Waktu terus berjalan, try-out demi try-out aku ikuti, berharap keajaiban datang padaku, atau takdir baik menyambutku.

Tak terasa, yang dinanti telah tiba. Layaknya seorang remaja yang akan bertemu dengan pujaan hati, hari itu aku sangat gugup dan gemetar. Dagdigdug bunyi jantungku, ah apa bisa aku melewati ini semua? kalo jelek bagaimana? apa aku tidak akan berkuliah?, pikirku berantakan seraya menuruti peri jahat di kepalaku.

Syukurlah! Setelah berseteru dengan otak selama tiga jam lebih akhirnya aku bisa melewati beban ini. Sebelum meninggalkan segala kerumitan soal, aku berdoa dalam hati semoga nilaiku memuaskan dan membahagiakan bukan hanya untukku namun bagi semua, doaku.

Harap-harap cemas..

Menanti secercah harapan untuk masa depan...

Akhirnya datang..

Bagaimana hasilnya ? bagus tidak ? alhamdulillah bagus, ujarku.

Namun jika boleh jujur, aku merasa nilai yang aku dapatkan sangat jauh dari ekspektasi. Memang bagi teman-temanku, nilai yang ku peroleh sudah bagus dan pasti akan diterima di Perguruan Tinggi Negri. Ya tapi namanya juga manusia, tidak akan pernah merasa puas, betul tidak?

Berandai-andai jika aku fokus dan tidak dihadapkan dengan berbagai masalah, mungkin hasil yang didapat akan lebih memuaskan, tapi yasudahlah mau berbuat apa lagi? semua sudah terjadi dan tak bisa kembali. Sekarang waktunya untuk memutar otak agar aku dapat diterima di jurusan yang aku mau namun tetap sesuai dengan keinginan orangtua.

Berlabuhlah hatiku pada satu pilihan, yaitu jurusan Kesejahteraan Sosial di Universitas Padjadjaran. Dengan nilai dan doa yang ku panjatkan pada Tuhan, harapan terakhir aku serahkan pada jurusan ini. Alangkah senangnya hati ini ketika orangtua menyetujui diriku untuk memilih perkuliahan di luar kota, ya walaupun batas paling jauh hanya di UNPAD saja.

Meyakinkan diri untuk ikhlas dengan hasil yang ada..

Terus berdoa dan meminta pada yang Kuasa...

Hingga akhirnya, hari itu semakin dekat..

Dekat..

Dekat..

Dan tiba..

Ingat betul aku hari itu, pengumuman yang ditunggu-tunggu semua siswa dari seluruh penjuru kota di Indonesia akan diumumkan tepat pukul 15.00 WIB. Ah lagi-lagi jantungku berdegup kencang, tangan pun tak lagi seperti biasa yang selalu hangat, Tuhan semoga tahun ini aku berkuliah, ucapku saat itu.

Dengan perlahan dan diiringi dengan ketakutan, aku akhirnya memberanikan diri untuk melihat pengumuman tersebut. Satu kata yang terus keluar dari mulut manis ini..

Alhamdulillah!

Alhamdulillah!

Alhamdulillah!

Akhirnya aku akan berkuliah dan melanjutkan kehidupanku walau tidak sesuai dengan tujuan awalku. Namun setidaknya ini salah satu cara agar aku dapat meraih kesuksesan di masa depan dan membahagiakan orang terdekatku.

Lalu apa kabar dengan Dia?

Aku dan Dia mengakhiri hubungan selepas mengikuti UTBK. Berandai jika aku mempunyai mesin waktu, mungkin aku akan meminta untuk tidak dipertemukan dengan Dia di hidupku. Ah sudahlah tak perlu membahas dia lagi, akan aku jadikan Dia sebagai pelajaran berharga dalam hidupku, dan yang terpenting aku sekarang senang walau ada banyak penyesalan yang menghantui pikiranku ini.

Mungkin aku bisa menyimpulkan pesan yang perlu kalian garis bawahi ketika membaca ceritaku ini. Ingatlah dengan tujuan awal kalian untuk menggapai suatu mimpi dan tetap terus fokus dengan hal tersebut. Jika dulu aku tidak percaya dengan kalimat ini "usaha tidak akan mengkhianati hasil", rasanya aku salah besar, dan aku menyesal ! Satu pesan dariku untuk kalian, fokus dengan diri sendiri untuk mencapai kesuksesan atau kalian akan menyesal nantinya.


Baca Juga



Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.


Please wait...


Ada 2.469.223 Member Bergabung
Copyright © 2020 IndiSchool - Indonesia Digital School. All Right Reserved
MyIndiSchool.com