ahari ardiansyah

Last login time
12 Juli 2016



headerBanner
Teman Baruku, Idola Baruku

Teman Baruku, Idola Baruku

IndiSchool - Myschool · Posted by ahari ardiansyah


Minggu, 6 April 2014 14:21 WIB 1594 0 7

Ada murid baru di SMP 1 Medan, namanya Nur Aini, dia dari Langkat. Wajahnya sih lumayan Cantik, kulitnya kuning langsat, rambutnya dikucir dua namun tertata rapi, secara keseluruhan dia cukup manis, tapi gayanya agak kuno. Ditambah lagi, kalu sudah mulai ngomong, logatnya medok Jawanya kental banget, membuatnya kami tidak bisa menahan gelak tawa dan mulai menirukannya.

Hari Senin di Bulan Oktober. Pagi itu Bu Nelly, wali kelas VII 2 datang dengan murid baru. Perempuan, tinggi semampai.

“Selamat pagi anak-anak”, sapa Bu Nelly. “Perkenalkan ada anak baru, dari Langkat, namanya Nur Aini, dia akan menjadi murid di kelas VII 2 ini, saya harap kalian bisa menerima teman baru ini dengan baik.

Aini lantas memperkenalkan diri di depan siswa kelas VII 2.

“Perkenalkan, namaku Nur Aini, panggil saja Aini, Aku dari Langkat, pindah ke Medan karena ikut orang tua pindah tugas di Medan”.katanya dengan logat Jawa medok yang langsung membuat sebagian anak senyam senyum menahan geli. Untung perkenalannya singkat, jadi tidak sampai menjadi bahan olok-olok geng Alfin cs, yang terkenal suka mempemalukan orang lain.

Aini disuruh duduk disebelahku oleh Bu Nelly. Kebetulan bangku disebelahku memang kosong. Selama pelajaran, Aini lebih banyak diam, tetapi aku tak sabar ingin kenalan dengan makhluk baru disebelahku ini.

“Hai gue Ahari, gimana menurutmu kelas ini” tanyaku.

“Baik, aku belum tahu, sepertinya kamu dan teman-teman baik.”

Idih, dia pake logat aku-kamu, puitis sekali, seperti karya sastra saja. He-he-he. Aku tersenyum mendengarnya. Dia langsung bercerita lebih banyak tentang Langkat kampung halamannya, dengan logat yang sama. Aku juga gak mau kalahdengan menceritakan keramaian dan meriahnya Medan. Tak perlu waku lama, kami berdua langsung akrab.

Setelah istirahat, ada pelajaran Biologi. Pak Akhbar, guru pengampu mata pelajaran itu masuk kelas tepat waktu, dan mulai mengabsen murid-murid satu-persatu. Saat nama tiba giliran Aini disebut, dia langsung kaget dan menjawab “dalem”. Sontak seisi ruang kelas langsung tertawa karena mendengar jawabannya. Aini langsung meralat dan menjawab “hadir”. Tetapi hal ini membuat Alfin cs senang, seperti mendapat umpan baru.

Setiap kali Aini lewat, dia dan gengnya langsung memanggilnya dan buru-buru teriak, “daleeemmm” bareng-bareng. Kalau sudah begitu, muka Aini langsung merah padam dan dia Cuma bisa berlari ke bangkunya. Tidak sampai disitu, geng Alfin cs juga sering menirukan logat Jawa medok Aini kalau dia sedang membaca di depan kelas. Akupun juga sering geli mendengarnya dan tak tahan untuk tertawa.

 

Seminggu kemudian, saat di kantin, aku mendengar Midar, Fadila dan Ajima sedang menggosipkan penampilan Aini yang sedikit kampungan.

“Rambutnya itu lho, idih masih jaman ya dikucir dua,” kata Midar sambil mengepalkan kedua tangannya di kepala.

Fadila tidak mau kalah, ia langsung nyeletuk “Apalagi roknya itu panjang banget, idih enggak banget, kunooo...” timpalnya. Ajima juga menambahkan, “Haduh, kalau lihat mukanya dan logatnya itu lho, udah deh kelihatan dari kelas mana, gak level-lah sama kita-kita, hahaha.” Katanya diikuti tawa yang lainnya.

Tak hanya itu, Alfin cs tidak pernah berhenti memalukan Aini. Seperti saat pelajaran bahasa inggris berlangsung, mereka meremehkan Aini karena logat medok Aini masih sangat kental saat melafalkan kata-kata dalam bahasa inggris. Yaelah, masak ngomong bahasa inggris campur Jawa, kalau kayak gitu orang bule mana ngerti bahasa lu, gimana sih Ni, Ni....” kata Alfin sambil tertawa terbahak-bahak, diikuti gelak tawa pasukannya.

Setiap hari selalu saja ada yang mempermalukan Aini. Baik penampilan, maupun tingkah lakunya yang kelewat santun. Namun, tidak pernah sekalipun dia membalas perlakuan melecehkan dari teman-temannya itu. Aku sendiri sebenarnya tidak pernah bermaksud mengejeknya, tetapi kalau ada teman-teman yang menirukan gaya bicaranya, aku selalu saja tak sanggup menahan tawa. Selama menjadi teman sebangku, Aini tak pernah bercerita pendapatnya tentang teman-teman sekelas. Aku juga tidak begitu mengenalnya secara pribadi. Masalah keluarga apalagi, sama sekali tidak pernah disinggungnya.

Ternyata, dalam diamnya, Aini membuktikan bahwa ia tidak bisa dipandang sebelah mata. Hasil nilai-nilai ulangan hariannya sangat bagus, di hampir semua mata pelajaran, nilainya memuaskan. Hal itu  membuat sebagian orang yang duduk di rangking 10 besar semakin waspada, siapa tahu kedudukannya akan digeser oleh si pendatang baru dari Langkat tersebut.

Meski sudah membuktikan bahwa dia pintar secara akademik, hal itu malah membuat Midar, Fadila, dan Ajima semakin geram, karena mereka tidak pernah sepintar Aini. Saat Aini hendak masuk kelas, dia berpapasan dengan Midar cs. Merekasemakin menjadi-jadi mengejeknya, kali ini mereka mengejek penampilannya habis-habisan.

“Wah, anak desa sekarang sudah pinter ya di kota, hehehe. Tapi itu lho sepatunya itu-itu saja, bosen ah lihatnya, mana model jaman batu masih dipake, hahaha” teriak Ajima bersemangat, diikuti tawa meremehkan dari Midar dan Fadila. Sayangnya reaksi Aini tidak seperti yang mereka harapkan. Aini bergeming, menoleh pun tidak. Jadilah Midar cs semakin penasaran.

Siang itu, saat menjelang bel istirahat kedua, kepala sekolah kami, Pak Habib datang ke kelas kami.

“Selamat siang anak-anak. Aini bisa ke ruangan saya sebentar, ada beberapa hal yang perlu saya bicarakan” katanya. Aini langsung keluar bersama dengan kepala sekolah. Anak-anak langsung bengong, dan saling memandang, apakah gerangan yang terjadi sampai yang datang kepala sekolah. Aku juga tidak tahu apa masalahnya, Aini tidak pernah cerita apapun kepadaku, apakah dia kesulitan beradaptasi atau apa. Nampak di sudut jendela, Midar cs tersenyum penuh arti, seperti baru saja memenangkan pertandingan. Huh...dasar Midar, Fadila dan Ajima mereka kan cuma menang penampilan saja, tapi otaknya kosong, umpatku dalam hati. Mereka pasti senang Aini mengalami masalah.

Setelah istirahat, Aini kembali ke kelas, namun dia diizinkan untuk pulang sambil membawa tasnya. Saat kutanya, dia hanya tersenyum sambil mengatakan, “Nanti kamu juga pasti akan tahu kok”. Anak-anak semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada anak baru itu.

Bu Kiki, yang sedang menjelaskan pelajaran bahasa Indonesia di jam terakhir itu terpaksa menghentikan pelajarannya, begitu Aini keluar. Dia lantas mengatakan, “Anak-anak, teman kita, Aini, merupakan salah satu siswa yang akan dikirim sekolah kita untuk mewakili Indonesia dalam acara internasional art festival di Jepang, ia salah satu penari yang akan membawakan tarian tradisional Indonesia, saat di Langkat dia sudah sering dikirim ke berbagai negara karena kemampuannya dalam menarikan tarian tradisional Jawa, sekolah kita patut berbangga memiliki siswa seperti dia.”

Kata-kata Bu Kiki itu seperti menyihir kami semua.

Suasana kelas langsung hening. Semuanya takjub akan prestasi Aini yang sama sekali tidak kami ketahui, termasuk aku. Aku melihat wajah teman-teman yang selama ini meremehkan dia langsung berubah pucat mendengar kata-kata Bu Kiki.

Wow, ternyata teman sebelahku itu hebat sekali, ungkapku dalam hati. Dia tidak hanya pintar, namun juga berprestasi.

Hebatnya lagi, dia tetap sederhana. Aku yakin, teman-teman yang lain juga pasti mengagumi Aini. Aku harap dia berhasil mengharumkan nama Indonesia di Jepang nanti, dan segera setelah dia pulang nanti, aku harus memintanya bercerita tentang segudang pengalamannya sebagai penari tarian Jawa klasik. Oh Aini teman baruku, kamulah idola baruku, tak sabar rasanya ingin berjumpa denganmu lagi... 

Baca Juga



Ada 0 Komentar

Kirim Komentar


Maaf, Anda tidak dapat mengirimkan komentar. Silahkan login terlebih dahulu atau jika Anda belum menjadi Member silahkan daftar.


Please wait...


Ada 2.228.047 Member Bergabung
Copyright © 2016 IndiSchool - Indonesia Digital School. All Right Reserved
MyIndiSchool.com